Untuk customer industri, dashboard power meter biasanya bukan hanya ingin melihat angka kWh. Mereka ingin menjawab pertanyaan seperti:
“Listrik paling banyak dipakai di panel mana, kapan pemakaian tertinggi, dan apakah penggunaan tersebut normal atau boros?”
Kalau sistemnya untuk monitoring beberapa panel produksi, kami sarankan dashboard memiliki beberapa level analisa berikut.
1. Real-Time Monitoring
Untuk setiap panel:
- Voltage (V)
- Current (A)
- Power (kW)
- Power Factor (PF)
- Frequency (Hz)
- Energy (kWh)
- Status panel
- Communication status
Contoh:
| Panel | Voltage | Current | Power | PF | Energy |
|---|---|---|---|---|---|
| Panel Production 1 | 400 V | 125 A | 72 kW | 0.92 | 1,245 kWh |
| Panel Production 2 | 398 V | 85 A | 48 kW | 0.95 | 875 kWh |
| Panel Compressor | 402 V | 160 A | 91 kW | 0.89 | 1,680 kWh |
2. Energy Consumption per Panel
Ini biasanya fitur paling penting.
Customer ingin mengetahui kontribusi konsumsi listrik masing-masing panel.
Misalnya:
Total Energy Today: 8,450 kWh
- Panel Production 1 → 2,850 kWh
- Panel Production 2 → 1,920 kWh
- Panel Compressor → 1,680 kWh
- Panel Utility → 1,200 kWh
Panel HVAC → 800 kWh
Contoh Dashboard nya seperti ini :
3. Trend Pemakaian Listrik
Customer biasanya ingin melihat:
Hourly → Daily → Weekly → Monthly
Contohnya grafik:
Power Consumption – Today

Dari sini bisa terlihat:
- jam pemakaian tertinggi
- jam pemakaian rendah
- pola produksi
- abnormal consumption
- equipment yang tetap menggunakan listrik ketika produksi berhenti
4. Peak Demand
Ini sangat menarik bagi customer karena berkaitan dengan beban maksimum listrik.
Dashboard dapat menampilkan:
Peak Demand Today
🔴 485 kW
dengan informasi:
Peak terjadi pada 10:35
Kemudian bisa dibandingkan:
- Peak today
- Peak yesterday
- Peak this week
- Peak this month
Customer bisa melihat apakah ada lonjakan beban yang tidak biasa.
5. Perbandingan Antar Panel
Dashboard sebaiknya memungkinkan customer membandingkan panel.
Contoh:
Energy Consumption – September
| Panel | kWh | % Total |
|---|---|---|
| Production 1 | 18,520 | 34% |
| Compressor | 14,820 | 27% |
| Production 2 | 10,250 | 19% |
| HVAC | 6,850 | 13% |
| Utility | 3,900 | 7% |
Dari sini customer langsung tahu:
Compressor menggunakan 27% dari total energi.
Ini bisa menjadi dasar untuk melakukan improvement.
contoh dashboard lainnya seperti ini :
6. Production vs Energy
Kalau datanya sudah terintegrasi dengan PLC/MES, dashboard bisa dibuat jauh lebih menarik.
Bukan hanya:
Energy = 8,450 kWh
tetapi:
Production = 12,500 pcs
Energy = 8,450 kWh
Energy per Product = 0.676 kWh/pcs
Ini biasanya jauh lebih berguna untuk energy efficiency analysis.
Contohnya:
| Hari | Production | Energy | kWh/pcs |
|---|---|---|---|
| Senin | 10,500 | 7,800 | 0.743 |
| Selasa | 12,000 | 8,100 | 0.675 |
| Rabu | 13,200 | 8,300 | 0.629 |
Walaupun konsumsi listrik naik, efisiensinya justru membaik.
Contoh Dashboardnya seperti ini :
7. Baseline vs Actual
Customer juga sering membutuhkan analisa:
“Apakah pemakaian listrik hari ini normal?”
Dashboard bisa memiliki:
Baseline Energy: 8,000 kWh/day
Actual Energy: 9,250 kWh/day
Variance: +15.6%
Kemudian sistem memberikan indikator:
🟢 Normal
🟡 Warning
🔴 Abnormal
8. Alarm & Abnormal Condition
Jangan hanya menyimpan data. Dashboard sebaiknya memberikan alert.
Misalnya:
- Over Voltage
- Under Voltage
- Over Current
- Low Power Factor
- High Power Demand
- Abnormal Energy Consumption
- Communication Failure
- Panel Offline
Contoh:
🔴 HIGH ENERGY CONSUMPTION
Panel Compressor
Actual: 125 kW
Normal: 80–100 kW
Duration: 18 minutes
Ini jauh lebih bernilai daripada sekadar menampilkan angka.
9. Power Factor Analysis
Untuk industri, PF sangat penting.
Dashboard dapat menampilkan:
Average PF: 0.91
dan memberikan status:
- 🟢 > 0.95 → Good
- 🟡 0.90–0.95 → Attention
- 🔴 < 0.90 → Low
Bisa juga dibuat trend PF per panel untuk mencari panel atau equipment yang memiliki masalah.
10. Cost Analysis
Kalau customer memberikan tarif listrik, dashboard bisa mengubah:
kWh → Rupiah
Contoh:
Energy Today: 8,450 kWh
Electricity Rate: Rp1,500/kWh
Estimated Cost: Rp12,675,000
Kemudian:
Cost per Panel
| Panel | Energy | Estimated Cost |
|---|---|---|
| Production 1 | 2,850 kWh | Rp4.275.000 |
| Compressor | 1,680 kWh | Rp2.520.000 |
| Production 2 | 1,920 kWh | Rp2.880.000 |
Ini biasanya sangat menarik untuk management level, karena mereka tidak perlu membaca parameter listrik teknis.
berikut contoh dashboard nya untuk power monitoring system nya